Rusaknya Pusaka dan Budaya Kehidupan dari Sungai yang Mengalir

  • Whatsapp

SUNGAI yang dalam bahasa daerah Lampung disebut way tidak lagi seperti dituturkan oleh kakek nenek kami. Way bagi penduduk lokal adalah pusaka sekaligus budaya.

Sungai laksana pusaka, karena dia menjadi urat nadi kehidupan masyarakat tempo dulu yang kemudian beranak pinak sampai sekarang. Dari sungai inilah, manusia bisa minum, bisa mendapat makanan berprotein sejenis ikan, dan juga bisa mengairi lahan pertanian mereka.

Bacaan Lainnya

Sungai juga laksana budaya, karena dari sungai ini pula manusia bisa berinteraksi dan bertukar pengaruh budaya dengan dunia luar melalui alat transportasinya perahu kayu.

Inilah kemudian mengapa sungai dan air sering diabadikan oleh nenek moyang dalam berbagai penamaan tempat. Mereka juga selalu menjaga agar sungai dan airnya tidak rusak, karena mereka tahu bahwa sungai adalah pusaka dan budaya kehidupan.

Tetapi, peradaban leluhur tentang sungai nyaris dirusak oleh budaya kapitalis. Atas nama pertumbuhan ekonomi, kapitalis membuat “revolusi” di segala bidang tanpa memikirkan sungai sebagai pusaka dan budaya.

Salah satunya adalah tercemarnya Way Sekampung yang melintasi dua kabupaten, Lampung Timur dan Lampung Selatan. Air sungai itu berwarna hitam pekat. Penduduk lokal menduga sungai itu dicemari limbah pabrik yang beroperasi di sekitarnya.

Tragis sekali memang, karena sungai itu adalah urat nadinya nelayan lokal. Mereka banyak bergantung hidup dari sungai itu. Mereka mencari hidup dari menangkap ikan dan udang. Ikan Baung dan udang Galah adalah favorit nelayan karena harganya di pasar sangat tinggi. Dengan tercemarnya sungai itu nelayan geram karena ikan dan udang akan mati keracunan!

Perkara rusaknya sungai di Lampung ini sudah lama mengundang keprihatinan masyarakat. Aktivis lingkungan setempat sudah sering bersuara lantang mengkritik pelaku usaha yang mencemari sungai. Mereka juga mengkritik pemerintah dan pihak berwenang yang diam saja melihat kerusakan alam ini.

Rusaknya sungai-sungai di Lampung menurut kakek nenek kami, dimulai pada masa “revolusi pertanian/perkebunan” di era ’70-an dan awal ’80-an. Waktu itu, kapitalis membangun pabrik-pabrik untuk mengolah produk pertanian dan perkebunan yang beroperasi di sekitar sungai.

Dengan hadirnya pabrik-pabrik itu, hutan-hutan di Lampung sebagai sahabatnya sungai dibabati lalu diganti tanaman budidaya untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik itu.

Bahkan pembabatan hutan berlangsung sampai bibir sungai, sehingga sungai tidak lagi memiliki sahabat dekat yang menjaga kejernihan airnya. Air bercampur lumpur langsung mengalir ke sungai di kala hujan datang, karena tidak ada akar pohon yang menahannya. Dalam hitungan beberapa tahun, sungai-sungai di Lampung pun dangkal di sana-sini. Dan, ikan yang menjadi isi sungai juga ikut mati karena tidak punya tempat yang memadai untuk berkembang biak.

Kerusakan sungai pun diperparah lagi dengan nakalnya kapitalis pabrik yang tanpa hati membuang limbahnya ke sungai. Sungai semakin rusak, sehingga tidak lagi bisa difungsikan oleh manusia sebagai pusaka; tempat minum, mandi, mencuci, dan mencari ikan.

Tidak ada lagi keceriaan anak-anak kecil berenenang di sungai. Tidak ada lagi budaya memancing dan menjala ikan di sungai yang kotor. Tidak ada lagi habitat burung di pohon-pohon tepi sungai, karena sudah gundul.

Generasi sekarang hanya bisa meratapi way, way, way di Lampung yang mulai tercemar, dangkal, dan rusak. Cerita leluhur tentang sungai sebagai pusaka dan budaya kehidupan jangan lagi hanya sebuah kerinduan dalam mimpi.

 

Penulis: Krista Riyanto, tinggal di Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *