Gagasan Besar dan Segar Tidak Terlihat dalam Debat Wali Kota Bandar Lampung

  • Whatsapp
Suasana Debat (foto: Tribunnews.com)

DEBAT calon wali kota Bandarlampung, Rabu (14/10/2020) malam, jauh dari makna sebuah debat.

Arti debat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

Jadi debat calon wali kota harusnya diisi saling kritik gagasan atau program antarcalon. Bukan tanya jawab yang tiada energi kritisnya.

Jadi, tema debat yang digelar oleh KPU Kota Bandarlampung tidak “menggigit”, sehingga tidak menarik bagi warga masyarakat yang ingin menikmatinya.

Kemudian dari paparan program ketiga calon, Rycko Menoza nomor urut 1, Yusuf Kohar nomor urut 2, dan Eva Dwiana nomor urut 3, juga tidak ada gagasan baru, besar, dan segar, yang penuh terobosan elementer.

Mereka semua hanya mengusung cita-cita biasa . Tidak membedah persoalan kota besar. Rycko misalnya mengusung program membuka 100 ribu lapangan kerja, memberi bantuan modal Rp5 juta kepada UMKM yang sudah ada ataupun baru, termasuk kalangan mileniai, memberi bantuan pangan bergizi dengan memberikan Rp2 juta per kepala keluarga per tahun, memberi bantuan senilai Rp2 juta per tahun kepada siswa kurang mampu serta membantu pelajar dan mahasiswa yang berprestasi.

Begitu juga dengan Yusuf Kohar yang mengusung program membuka klaster ekonomi baru di sana-sini.

Sedangkan Eva Dwiana kelihatanya hanya sekadar melanjutkan apa yang dicapai oleh Wali Kota Herman HN sekarang ini tanpa menawarkan gagasan baru yang lebih besar dan segar.

Mereka para calon wali kota ini masih rata-rata, tidak ada yang saling mengungguli dari capaian kepemimpinan sekarang ini. Sulit bagi masyarakat untuk yakin menjatuhkan pilihan kepada mereka. Mungkin pilihan yang dijatuhkan warga kepada mereka hanya atas dasar rasa senang, bukan karena programnya yang besar yang penuh terobosan elementer.

Para calon wali kota ini mestinya mengusung program atas dasar problematika mendasar yang dihadapi kota-kota besar seperti Bandarlampung ini. Programnya mesti berorientasi jangka panjang dan bukan kenyang sesaat.

Problem yang dihadapi kota-kota besar seperti halnya Bandarlampung adalah manusia. Populasi yang terus bertambah ini menjadi pangkalnya. Mereka butuh papan dan pangan.

Bila papan dan pangan tidak tercukupi, mereka bisa memunculkan persoalan serius seperti kejahatan, radikalisme, kerusakan lingkungan, gelandagan, dan dekadensi moral lainnya.

Itulah mengapa negara-negara yang kotanya sudah mapan dan nyaman seperti di belahan eropa, pemerintahnya dahulu getol membangun perumahan dan pusat perdagangan.

Kenapa calon wali kota tidak ada yang menawarkan jaminan kepada warga untuk memiliki hunian dan kegiatan usaha sebagai sumber kehidupannya?

Huniah berkonsep vertikal yang disewakan secara murah bersubsidi akan menekan kerusakan lingkungan seperti banjir dan sebagainya. Dengan jaminan setiap warga Bandarlampung memiliki hunian vertikal maka mereka tidak akan habis isi kantongnya untuk membeli hunian yang terus naik dari waktu ke waktu.

Di kota-kota besar arah pembangunan permukimannya harus vertikal. Penduduk dijamin dapat rumah sewa bersubsidi. Huniannya tidak dijual, karena kalau dijual bisa jatuh ke tangan pemilik modal, sehingga terjadi penumpukan aset hunian di tangan sekelompok orang.

Dengan memenuhi kebutuhan hunian ini, penduduk tidak lagi membangun hunian di pinggir sungai, di lereng bukit, bahkan di kolong jembatan, yang bisa membahayakan bagi keselamatan dan kesehatan mereka.

Dengan jaminan hunian sewa vertikal, kota juga lebih mudah ditata dan dikontrol dari segala aspeknya. Kota menjadi bersih, rapih, tertib, dan tidak macet. Semuanya bisa menekan ekonomi biaya tinggi yang tidak lagi menguras keuangan daerah.

Sedangkan pusat perdagangan berupa pasar-pasar tradisional sistem sewa murah (tidak dijual, karena kiosnya bisa diborong kapitalis) akan merangsang lapangan kerja di sektor informal. Pedagang bermodal kecil bisa masuk menjadi pedagang, karena mereka mampu menyewa kios dengan harga murah.

Tanpa susah payah lagi, lapangan kerja baru akan tumbuh dengan sendirinya. Pedagang kaki lima yang menjamur di tepi jalan akan terdorong masuk ke pasar-pasar dengan sendirinya.

Karena sewa kiosnya murah, pedagang kecil bisa menabung, sehingga punya aset untuk masa depan mereka. Bahkan, mereka bisa menggandakan usahanya menjadi lebih besar lagi.

Hunian dan pasar ini bisa digunakan untuk menjawab kebutuhan bagi kota-kota besar yang populasi manusianya bertambah terus. Inilah yang mestinya diprogramkan oleh calon wali kota Bandarlampung agar kota ini nyaman dihuni di masa depan.

Krista Riyanto, Pemimpin Umum Jurnallampung.id

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *