Harga Singkong Tak Sebesar Rezekinya Pengemis Jalanan

  • Whatsapp
Petani Singkong (sumber: antaranews)

SEKARANG ini banyak petani singkong di Lampung oleng, karena komoditas pertaniannya itu tak lagi berharga di tingkat pembeli, khususnya pabrik.

Dari satu kampung ke kampung lainnya, petani singkong meratap. Komoditas yang dia tanam dan rawat dengan diiringi doa siang malam jatuh pada harga yang relatif sangat rendah.

Satu kilogram singkong dihargai tidak lebih daripada Rp1.000. Padahal, harga singkong di masa normal bisa mendekati Rp2.000. Jika dalam satu hektar menghasilkan 25 ton dengan masa tanam 8 bulan, seorang petani singkong menghasilkan uang kotor Rp25 juta. Dikurangi biaya tanam dan perawatannya, petani singkong hanya bisa meraup uang tidak lebih dari Rp5 juta. Uang senilai itu hanya cukup buat beli satu telepon seluler kelas menengah.

Harga sekilogram singkong yang tidak lebih dari Rp1.000, jelas berita yang amat mengenaskan. Uang nilai segitu juga bukan apa-apanya bahkan bagi seorang pengamen atau pengemis jalanan.

Seorang pengamen yang hanya modal kecrekan tutup botol bekas atau pengemis yang hanya bermodal tangan menengadah ke atas mampu meraup paling kecil Rp2.000 dari satu “kliennya”.

Padahal, petani adalah penyedia makanan bagi kehidupan di bumi ini. Dari raga dan keringatnya lah, sumber pangan kehidupan di bumi ini mereka sediakan untuk kelangsungan makhluk hidup.

Sampai ada sebuah lelucon bahwa orang yang masuk surga dengan cepat adalah mereka yang bekerja sebagai petani. Kenapa? Karena petani hidupnya benar-benar dari bekerja keras. Mulai bangun tidur, mereka pergi ke ladang untuk bercocok tanam, lalu memupuk, menyiangi rumput, lalu menjaganya agar tidak dimakan hama atau binatang hutan. Dan, mereka tidak pernah lupa memanjatkan doa kepada Sang Pencipta agar hasil bertaninya itu melimpah sehingga bisa dinikmati banyak orang.

Apa yang didapat petani jauh dari unsur riba, korup, dan dosa akibat pikiran maupun perbuatannya. Petani benar-benar hidup dari meres keringet, mekso rogo (memeras keringat dan bekerja keras) bersama alam dengan dilandasi doa kepada Sang Pencipta.

Nah, di kala situasi tidak berpihak kepada mereka seperti dihadapi petani singkong sekarang ini, adakah kepedulian dari kepala daerah dalam mengamankan harga komoditas pertanian mereka. Betul bahwa harga komoditas pertanian sangat tergantung hukum pasar. Mungkin permintaan singkong atau olahannya sedang menurun sekarang ini, sehingga harga sinkong pun ikut turun.

Kepala daerah sebagai “ayah” dari masyarakat mesti turun tangan untuk menolong petani singkong. Jangan sampai nasibnya seperti kerupuk tercelup ke dalam air, melempem lalu menyusut tak karuan.

Kepala daerah bisa membuat regulasi yang memaksa kapitalis pabrik tapioka untuk membeli singkong petani dengan harga lebih manusiawi. Untuk apa pabrik-pabarik tapioka itu beroperasi menikmati hasil pertanian berpuluh-puluh tahun lamanya jika mereka tidak bisa menolong petani yang selama ini menjadi mitra mereka sebagai pemasok singkong.

Kepala daerah yang daerahnya menjadi penghasil singkong seperti Lampung Timur, Lampung Tengah, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Lampung Utara, dan Mesuji, jangan diam saja melihat nasib petani singkong yang oleng digoyang ekonomi yang sedang menurun ini.

Sudah bukan eranya lagi bagi kepala daerah hanya menjadikan petani sebagai obyek politik di kala pemilihan berlangsung. Kepala daerah mesti berani membayar kepercayaan yang diberikan petani hingga mereka memegang jabatan dan kewenangan di tangannya.

Menyelamatkan nasib petani sama saja menyelamatkan kehidupan, karena mereka lah yang memasok bahan kehidupan buat kita semua.

Krista Riyanto, Pemimpin Umum Jurnallampung.id

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *