Kekuatan Media Sosial dalam Menghancurkan Peradaban

  • Whatsapp
Iustrasi Media Sosial

BARU saja Indonesia dilanda unjuk rasa menentang Undang-undang Cipta Kerja yang banyak menimbulkan kerusakan fasilitas umum di sana-sini. Di Jakarta, beberapa halte bus TransJakarta dan stasiun MRT kebanggaan nasional dirusak dan dibakar.

Pemerintah Provinsi Jakarta menaksir kerugian dari rusaknya fasilitas umum itu mencapai Rp65 miliar! Sebuah angka yang fantastis bila digunakan untuk membeli beras dan dibagikan kepada warga negara. Dengan harga beras Rp10.000 per kilogram, dengan uang segitu akan diperoleh 6,5 juta ton beras. Bila satu warga mendapat 1 kilogram maka 6,5 juta orang bisa kebagian berasnya.

Dalam peristiwa unjuk rasa itu, personel keamanan menangkap salah seorang yang ketahuan mengunggap informasi hoaks  atau bohong tentang UU Cipta Kerja di media sosial (medsos) twitternya. Info yang bernarasi provokasi itu menyebar laksana virus ke semua pengguna telepon seluler, sehingga membangkitkan kemarahan massa.

Di sini terlihat sekali kekuatan media sosial seperti twiiter, facebook, instagram, whatsapp, youtube, dalam membangun opini publik. Tidak sekadar orang-orang miskin ilmu yang bisa dipengaruhi nalarnya, namun mereka yang kaya ilmu juga bisa gagal paham dibuatnya.

Media sosial dibuat oleh pendirinya memiliki filosofi untuk membangun peradaban manusia agar berkembang sesuai hakikatnya sebagai makhluk berbudaya dan bermartabat. Satu sama lain saling terkoneksi dengan harapan tercipta tatanan dunia yang saling berbagi apa saja tanpa batas ruang dan waktu.

Tetapi, di tangan sekelompok manusia petualang, media sosial bisa mereka gunakan untuk mencapai tujuan sempit. Misalnya untuk kepentingan membangun permusuhan, konflik, kebencian, dan fitnah yang bertujuan membuat kerusakan pihak lain.

Suriah adalah salah satu contoh negeri yang hancur setelah perang antargolongan akibat pesan permusuhan, kebencian, dan fitnah yang diproduksi dan disebarkan lewat media sosial.

Dan, Indonesia sendiri sudah merasakan pesan-pesan bohong lewat media sosial meskipun belum separah Suriah, karena di Republik ini tidak tersedia pasokan senjata api sebagai alat pembunuh seperti halnya Suriah.

Konten bohong yang diproduksi dan disebarkan media sosial di masa pemilihan presiden 2019 bisa menjadi contohnya. Bagaimana masyarakat diprovokasi untuk saling memfitnah, membenci, dan memusuhi satu sama lainnya hanya karena berbeda piihan politik. Ada yang diprovokasi lewat suku, etnis, dan agamanya.

Pesan-pesan bohong juga menyebar lewat media sosial pada saat unjuk rasa Undang-undang Cipta Kerja. Narasi yang dibangun dalam pesan di media sosial misalnya ada yang memprovokasi orang-orang untuk memusuhi etnis tertentu karena mereka dituduh akan menjajah ekonomi Indonesia lewat modalnya.

Ada lagi pesan bohong yang memelintir bahwa akan terjadi pemecatan besar-besaran kepada buruh seiring berlakunya Undang-undang Cipta Kerja.

Ada lagi pesan yang menakut-nakuti generasi pelajar dan mahasiswa akan sulit cari kerja dengan berlakunya Undang-undang Cipta Kerja.

Sebaran pesan di media sosial ini sulit dipertanggung jawabkan isinya, karena tidak ada identitas yang memproduksinya. Tetapi, pesan di media sosial sudah dianggap benar karena sifatnya massif dan cepat. Dalam komunikasi, kebohongan yang menyebar secara massif dan cepat bisa dianggap sebagai kebenaran yang patut diyakini.

Sebagian anggota masyarakat sudah pasti akan terbawa arus oleh pesan-pesan di media sosial itu. Apalagi bila pesan-pesan itu dibarengi dengan gambar atau identitas idola atau berpengaruh sebagai magnetnya.

Pada saat unjuk rasa di Jakarta tanggal 8 Oktober 2020, ada pesan video yang menyebar lewat whatsapp seolah-olah sekelompok orang dinarasikan sedang menjarah salah satu pusat belanja. Padahal faktanya tidak demikian. Sudah bisa dipastikan bahwa pesan yang menyebar itu adalah bohong yang ditujukan untuk membangun penjarahan yang lebih luas lagi di tempat-tempat lain.

Inilah kekuatan media sosial dalam membangun persepsi orang yang kemudian menggerakkan perilakunya. Dalam hitungan detik, manusia bisa dipengaruhi oleh pesan-pesan yang masuk ke alat komunikasinya. Dalam hitungan detik pula perilaku mereka bisa mengikuti pesan yang dia terima itu.

Itulah kenapa masyarakat mesti menggunakan akal sehatnya bila menerima pesan lewat media sosial di alat komunikasinya. Jangan gampang ikut menyebarkannya, apalagi bila isi pesan tersebut berisi provokasi dan berpoteni membangun kebencian, permusuhan, dan menghancurkan peradaban manusia.

Krista Riyanto, Pemimpin Umum Jurnallampung.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *